Jumat, 26 Maret 2021

Minuman Khas Melayu

Laksamana Mengamuk



Laksamana mengamuk adalah minuman khas dari daerah Riau. Minuman ini berbahan dasar buah mangga kuini yang dicampur dengan santan dan gula. Laksamana Mengamuk banyak dijumpai saat bulan Ramadan.

Nama "Laksamana mengamuk" berasal dari kisah seorang laksamana yang mengamuk, Karena istrinya dibawa kabur oleh pemilik kebun kuini. Karena kemarahannya, ia menghempaskan pedangnya ke segala arah dan membuat buah kuini terjatuh dari pohonnya. Warga yang melihat hal ini kemudian memungut buah-buahan yang jatuh tersebut dan membuat minuman.

Masakan Khas Melayu

1. Pajri Nanas, Kudapan Khas Melayu

 

Buah nanas biasanya dikonsumsi secara langsung sebagai buah segar atau rujak. Kadang ada juga yang mengolahnya menjadi selai dan acar. Hal berbeda jika kamu berada di tanah Melayu. Pasalnya, ada olahan nanas yang dimasak menggunakan bumbu rempah, lalu dimakan bersama nasi. Adalah pacri nanas, masakan khas Melayu yang sangat mudah ditemukan di daerah-daerah dengan kultur Melayu, salah satunya adalah Pulau Penyengat di Kepulauan Riau.

pacri nanas memang punya cara masak berbeda untuk mempertahankan kesegaran nanas sekaligus menghilangkan rasa asam. "Nanas setelah dipotong-potong direbus dengan air gula. Sebentar saja hanya 5-10 menit. Baru setelah itu dimasak dengan bumbu kari halus,"


Untuk memakan pacri nanas ini, jangan ragu mencampurnya dengan nasi. Meskipun sekilas terasa aneh, tapi rasanya ternyata tak berubah. Malahan terasa lebih nikmat, karena rasa segar nanas yang melimpah.



2.  Ikan Asam Pedas Melayu, Kuah Pedasnya Bikin Ketagihan


Ikan asam pedas, makanan khas Melayu yang satu ini wajib dicoba saat datang ke wilayah Kepulauan Riau.  Melayu memang terkenal dengan asam pedasnya. Dan yang dimasak asam pedas biasanya ikan. Ikan yang bisa dimasak asam pedas bisa ikan laut ataupun ikan air tawar

 


Ikan asam pedas Melayu didominasi oleh citarasa dari lada hitam dan asam jawa. Selain itu, asam pedas Melayu juga menggunakan cabai kering dan air. Penambahan lada hitam akan membuat kuah lebih terasa pedasnya.
Jenis ikan yang lebih enak dimasak dengan metode ditumis adalah ikan lebam, ikan selar, ataupun ikan yang mempunyai daging tebal. Tetapi kalau ikan yang tidak mempunyai daging terlalu tebal, lebih enak dengan cara direbus saja. Seperti ikan dingkis, ataupun ikan lambai.






Kamis, 25 Maret 2021

Layangan atau wau



Layang-layang, layangan, atau wau (di sebagian wilayah Semenanjung Malaya) merupakan lembaran bahan tipis berkerangka yang diterbangkan ke udara dan terhubungkan dengan tali atau benang ke daratan atau pengendali. Layang-layang memanfaatkan kekuatan hembusan angin sebagai alat pengangkatnya. Dikenal luas di seluruh dunia sebagai alat permainan. Layang-layang diketahui juga memiliki fungsi ritual, alat bantu memancing atau menjerat, menjadi alat bantu penelitian ilmiah, serta media energi alternatif.

Catatan pertama yang menyebutkan permainan layang-layang adalah dokumen dari Cina sekitar 2500 Sebelum Masehi. Sedangkan penggambaran layang-layang tertua adalah dari lukisan gua periode mesolitik di pulau Muna, Sulawesi Tenggara, yang telah ada sejak 9500-9000 tahun SM. Lukisan tersebut menggambarkan layang-layang yang disebut kaghati, yang masih digunakan oleh orang-orang Muna modern. Layang-layang terbuat dari daun kolope (umbi hutan) untuk layar induk, kulit bambu sebagai bingkai, dan serat nanas hutan yang dililitkan sebagai tali, meskipun layang-layang modern menggunakan senar sebagai tali. Diduga terjadi perkembangan yang saling bebas antara tradisi di Cina dan di Nusantara karena di Nusantara banyak ditemukan bentuk-bentuk primitif layang-layang yang terbuat dari daun-daunan. Di kawasan Nusantara sendiri catatan pertama mengenai layang-layang adalah dari Sejarah Melayu (Sulalatus Salatin) (abad ke-17) yang menceritakan suatu festival layang-layang yang diikuti oleh seorang pembesar kerajaan.

Kerajinan Tangan dari Tempurung



Gelas dari Batok Kelapa


Sendok dari Batok Kelapa





Indragiri Hilir yang bergelar Negeri Hamparan Kelapa Dunia tentunya mempunyai kerajinan yang berbahan kelapa, baik itu dari batok, batang, dan bahkan dari sabut kelapa itu sendiri. Batok kelapa selain digunakan masyarakat Indragiri Hilir sebagai bahan bakar tempurung kelapa untuk keperluan mereka sehari-hari sudah juga dibuat sebagai arang dan berikut batok kelapa untuk keperluan memasak di rumah. Namun demikian sebagian masyarakat Indragiri Hilir telah juga berupaya mengembangkan batok kelapa yang melimpah di Indragiri Hilir sebagai bahan kerajinan tangan (hand made) bernilai seni tinggi seperti membuat tas, buah baju, hiasan dinding, pas bunga, figura, tempat tissu, asbak rokok, dan lain-lain. Perkembangan kerajianan batok kelapa di Indragiri Hilir belum begitu mendapat respon yang positif dari masyarakat karena masih kuatnya persaingan dengan produksi plastik dan produk-produk berbahan lainnya.

Rabu, 24 Maret 2021

Kueh Mueh Khas Melayu

 1. Bolu kemojo

 Salah satu makanan khas daerah dumai adalah bolu kemojo. Anda akan dengan mudah menemukan makanan ini di acara hajatan yang sedang berlangsung di dumai. Sebenarnya makanan ini adalah makanan khas yang hanya dibuat pada acara tertentu namun anda bisa menemukannya di pusat oleh-oleh. Bolu ini terbuat dari bahan dasar tepung terigu yang diberi tambahan berbagai macam bahan lainnya sehingga menjadi kue bolu hijau yang terlihat manis dan menggoda.




2. Dodol Nenas


 


Camilan khas Dumai selanjutnya yang juga bisa Toppers jadikan oleh-oleh saat bertandang ke Dumai adalah Dodol Nanas. Dengan manisnya rasa khas dodol berpadu dengan kesegaran rasa asam buah nanas, Dodol Nanas jadi salah satu pilihan favorit wisatawan untuk dijadikan oleh-oleh.


3. Kue Asidah



Kue Asidah, sajian khas Provinsi Riau yang hadir dalam momen istimewa dan perayaan masyarakat Riau. Masyarakat Riau biasanya menyajian kue asidah sebagai teman pendamping makan teh atau kopi. “Kue asidah memiliki rasa yang khas yang sangat mencerminkan cita rasa makanan Melayu yakni berempah,” Bahan kue asidah terdiri dari rempah-rempah berupa kayu manis dan cengkeh, membuat rasanya jadi gurih bercampur manis. Ada juga pandan sebagai penambah aroma.  Masyarakat Riau biasanya menambahkan bawang goreng di atas kue asidah. Rasa manis pada kue dan aroma khas dari bawang goreng akan memberikan rasa yang unik saat menyantap kue asidah. “Konon kabarnya kue ini merupakan salah satu makanan istimewa yang disuguhkan hanya untuk para raja di Indragiri Riau,” Kue asidah hanya muncul dan tersedia saat momen-momen istimewa, seperti kenduri adat, tunangan, hari raya keagamaan, syukuran, dan proses mengantarkan kue ketika sepasang masyarakat Riau hendak menikah. Untuk memakannya, selain ditabur bawang goreng juga ada tata cara yang unik yakni kue asidah dimakan mulai dari bagian bawahnya. 


4. Kue Wajik



Wajik Merupakan salah satu kuliner khas di Indonesia yang digemari banyak orang. Kue wajik memiliki beberapa sebutan yang berbeda-beda di setiap daerah di Indonesia. Kue wajik di Sumatera disebut dengan pulut manis. Wajik yang berasal dari ketan juga disebut dengan istilah ketan wajik. Selain memiliki sebutan yang berbeda-beda, Indonesia juga memiliki bermaca-macam jenis wajik. Wajik yang paling dikenal adalah wajik ketan yaitu wajik yang berasal dari beras ketan. Meskipun Kue ini dikenal luas di Indonesia. Kue wajik memiliki cita rasa manis. Rasa manis tersebut sering pula di tambahkan dengan aroma lain seperti rasa pandan dan vanili sedangkan rasa makanan ini ada yang memiliki rasa asli yaitu rasa gula merah dan rasa durian. Kue wajik memiliki tekstur seperti beras yang belum matang tetapi apabila dimakan akan terasa agak kenyal namun mudah digigit.










Selasa, 23 Maret 2021

GASING PERMAINAN TRADISIONAL MELAYU RIAU

Gasing merupakan permainan tradisional masyarakat melayu Riau yang sampai saat ini masih eksis meski pengaruh modernisasi terus menerpa sesuai dengan perkembangan zaman. Secara umum gasing terbuat dari kayu keras dengan bentuk badan bulat, lonjong, piring terbang (pipih), kerucut, silinder dan bentuk-bentuk lainnya yang merupakan ciri khas kedaerahan dengan ukuran bervariasi, terdiri dari bagian kepala, bagian badan dan bagian kaki. Gasing dimainkan dengan tali yang cukup panjang dan digulungkan pada kayu bulat, runcing pada bagian bawah dan terdapat katup pada bagain atas. Dilempar dengan keras ke tanah sehingga gasing tersebut berputar dengan kencang. Aturan permainan gasing ini tergantung pada para pemainnya, untuk kalangan anak-anak biasanya menggunakan sistem bertahan lama putaran gasing. Namun yang biasa dilakukan oleh orang dewasa gasing akan diadu.



Kompang



Kompang (کومڤڠ) ialah sejenis alat muzik tradisional gegendang bagi masyarakat Melayu. Selain itu, kompang juga kadangkala digunakan oleh suku Bajau di pesisir Sabah, Malaysia, meskipun tidak termasuk dalam tradisi asli mereka. Ia tergolong dalam kumpulan alat muzik gendang. Kulit kompang biasanya diperbuat daripada kulit kambing betina, namun mutakhir ini, kulitnya juga diperbuat dari kulit lembu, kerbau malah getah sintetik.



Pada kebiasaannya, seurat rotan akan diselit dari bahagian belakang antara kulit dan bingkai kayu bertujuan menegangkan permukaan kompang, bertujuan menguatkan bunyi kompang. Kini, gelung plastik turut digunakan.

Terdapat dua bahagian kompang iaitu bahagian muka (ada kulit) dipanggil belulang. manakala, bahagian badan (kayu) dipanggil baluh. Kompang perlu diletakkan penegang atau dipanggil sedak iaitu sejenis rotan yang diletakkan antara belulang dan baluh, sedak ini diletakkan bertujuan untuk menegangkan bahagian belulang dan menyedapkan bunyi kompang apabila dipalu.

Kompang biasanya berukuran enam belas inci ukur lilit dan ditutup dengan kepingan kulit pada sebelah permukaan. Ia mempunyai bukaan cetek dan dimainkan dengan memegang dengan sebelah tangan sementara dipalu dengan sebelah tangan yang lain.

Kompang Bengkalis Riau merupakan salah satu tradisi muzik yang menggunakan kompang sebagai medium penjanaan bunyi muzik. Kompang Bengkalis Riau dipercayai berasal dari Kampung Jawa, Muar, Johor, Malaysia. Ia telah berkembang sejak tahun 40-an lalu di bumi Bengkalis, Riau, Indonesia apabila seorang tokoh muzik yang bernama Pak Maun yang pulang dari Muar, Johor ke Bengkalis. Pak Maun lalu dikatakan mengajar alunan muzik kompang kepada abangnya iaitu Muhammad Ali. Apabila ilmu ini diperturunkan ke Muhammad Ali, Pak Maun telah berpindah ke daerah Bantan Tua, iaitu sebuah kampung dipanggil Resam. Bermula dari situlah permainan alat muzik Kompang Bengkalis Riau mula berkembang secara aktif.

Menurut suatu rancangan dokumentari berjudul "Musik Tradisi Riau" yang dijayakan oleh Dinas Kebudayaan Kesenian dan Pariwisata Provinsi Riau, temu bual telah diadakan bersama Encik Zailani Sulung, yakni salah seorang tokoh muzik kompang Riau merupakan anak murid kepada Pak Amir yang merupakan anak murid Pak Maun telah mempelajari kompang sejak tahun 1963.

MARS SMP NEGERI 2 DUMAI