Sabtu, 03 April 2021
Rabu, 31 Maret 2021
Perpustakaan Jendela Ilmu SMPN 2 Teken Perjanjian Kerjasama
Kepala SMP Negeri 2 Dumai, Hj Saidatun Syabibah SPd MPd memberikan sambutan pada acara penandatanganan perjanjian kerjasama Perpustakaan Jendela Ilmu SMPN 2 Dumai, Selasa (30/3) di Aula SMPN 2 Dumai.
SMP Negeri 2 Dumai mengadakan penandatanganan perjanjian kerjasama (MoU) Perpustakaan Jendela Ilmu SMPN 2 Dumai dengan Ketua Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Kota Dumai, Perpustakaan SMPN 1 Dumai dan SMAN 3 Dumai pada Selasa (30/3) di Aula Pertemuan SMPN 2 Dumai Jalan Sultan Syarif Kasim Dumai.
Selain Kepala SMPN 2 Dumai Hj Saidatuan Syabibah SPd MPd beserta majelis guru, juga hadir Kadis Perpustakaan dan Kearsipan Kota Dumai H Suriyanto SP, Ketua KADIN Kota Dumai Zulfan Ismaini SPd, Pengawas SMP H Syarifuddin MPd, Kasi Kurikulum Pendidikan Menengah Disdikbud Kota Dumai Maysarah SSos MPd, Ketua Asosiasi Tenaga Perpustakaan Sekolah Indonesia (Atpusi) Kota Dumai Hj Dewi Marlina SPd, perwakilan SMPN 1 dan SMAN 3.
Kepala SMPN 2 Dumai Hj Saidatuan Syabibah SPd MPd mengucapkan syukur dan berterima kasih atas waktu untuk menyempatkan hadir dalam acara penandatanganan MoU atau perjanjian kerjasama Perpustakaan Jendela Ilmu SMPN 2 Dumai dengan Ketua Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Kota Dumai, Perpustakaan SMPN 1 Dumai dan SMAN 3 Dumai.
”Saya berharap sekali kegiatan ini memberikan keberkahan untuk kita semua dan berdampak positif terhadap perpustakaan SMPN 2 bisa berkembang agar kedepan lebih baik lagi. Tentunya masih banyak kekurangan dan kelemahan dari Perpustakaan Jendela Ilmu apalagi belum akreditasi, tapi InsyaAllah awal April ini kita mengikuti akreditasi perpustakaan secara mandiri. Mudah-mudahan hasilnya sangat memuaskan dengan nilai A seperti sekolah lain nya. Untuk itulah, saya sampaikan sekali lagi ucapan terimakasih kepada Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Dumai dan Disdikbud yang memberikan bantuan moril dan materil terhadap perpustakaan kami khususnya Atpusi turun langsung ke sekolah memberikan pendampingan dan bimbingan,” ujar Saidatun Syabibah.
Pengawas SMP H Syarifuddin MPd menjelaskan tugas pokok pengawas dalam meningkatkan efektivitas kegiatan perpustakaan terutama di sekolah. ”Kami dari pengawasn ini berharap dinas terkait baik perpustakaan dan Disdikbud dapat membantu minat anak terselenggaranya dlm menambah pengetahuan di perpustakaan. Semoga SMPN 2 nantinya memperoleh akreditasi dengan nilai yang maksimal,” harapnya.
Kasi Kurikulum Pendidikan Menengah Disdikbud Kota Dumai Maysarah SSos MPd menuturkan pengembangan dan inovasi di perpustakaan sekolah khususnya Perpustakaan Jendela Ilmu SMPN 2 supaya dapat menjadi contoh bagi sekolah lain. ”Saya mengajak sekolah-sekolah agar dapat meningkatkan mutu pendidikan dan pengembangan literasi dan numerasi menjadi lebih baik kedepannya,” tukas Maysarah.
Ketua Asosiasi Tenaga Perpustakaan Sekolah Indonesia (Atpusi) Kota Dumai Hj Dewi Marlina SPd memuji ketangguhan kepala beserta dan jajaran dalam menyulap Perpustakaan Jendela Ilmu dari biasa saja menjadi luar biasa.
”Ya, salut dengan kerja keras kepala sekolah. Untuk Atpusi sejauh ini yang aktif 51 SMP dan SD 5. Saya berharap setiap perpustakaan sekolah mempunyai konsep terutama berbudaya Melayu dan itu tetap selalu ada karena tak kan Melayu hilang di bumi. Terimakasih untuk kepala perpustakaan Bu Dardanela semoga kedepan konsep perpustakaan itu bagaimana meningkatkan minat guru untuk menulis. Dan KADIN bagaimana bisa menarik CSR perusahaan untuk perpustakaan sekolah di Kota Dumai. Mari terus mengembangkan perpustakaan sekolah dan jadikan sebagai jantungnya sekolah serta taman rekreasi literasi sekolah bagi anak agar tertarik masuk pustaka dan gemar membaca meskipun sekarang zaman android,” pungkas Dewi Marlina.
Ketua KADIN Kota Dumai, Zulfan Ismaini SPd menyambut baik MoU dari Perpustakaan Jendela Ilmu SMPN 2 Dumai mengingat KADIN sebagai wadah pengusaha bersama serikat pekerja dan dunia pendidikan. ”Kita membuat e-library sedang berproses karena ini memanfaatkan CSR perusahaan dan kami ingin menularkan virus wirausaha melalui anak didik kita untuk pengembangan SDM kedepan,” tukasnya.
Kadis Perpustakaan dan Kearsipan Kota Dumai H Suriyanto SP juga menyambut antusias giat perpusatakaan sekolah di Kota Dumai dan siap mendukung sesuai kemampuan yang dimiliki.
”Kedepan saya berharap lebih banyak lagi sekolah-sekolah yang fokus mengembangkan perpustakaan sekolah, apalagi didampingi Atpusi yang giat turun ke sekolah. Mudah-mudahan kerjasama dan kebersamaan yang dibangun dapat bersinergi sehingga minat baca dan perpustakaan semakin menjadi tempat menyenangkan bagi kita semua khususnya anak-anak di sekolah,” harap Suriyanto.
Selanjutnya dilakukan penandatanganan perjanjian kerjasama Perpustakaan Jendela Ilmu SMPN 2 Dumai dengan Ketua Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Kota Dumai, Perpustakaan SMPN 1 Dumai dan SMAN 3 Dumai.(30/03/2021)
Minggu, 28 Maret 2021
PAKAIAN ADAT MELAYU RIAU
Teluk Belanga merupakan nama pakaian adat pria yang berasal dari Provinsi Riau. Sementara itu pakaian adat untuk wanita di Riau adalah Kebaya Labuh. Kedua pakaian adat tersebut merupakan warisan kebudayaan tersebut sering dikenakan pada saat upacara adat atau pernikahan. Ciri pakaian adat Ciri khas pakaian adat tersebut, Kebaya Labuh dan Teluk Belangga adalah panjangnya kebaya hingga menutupi lutut dengan bentuk kebaya tampak lebar dan terbuka.
Pakaian Teluk Belanga terdiri baju, celana dan kain samping serta penutup kepala. Leher baju berkerah dan berkancing, jumlah lazimnya lima buah dan itu melambangkan rukun Islam. Cokek sama dengan baju cekak musang. Biasanya menggunakan kain songket. Cara memasangnya pun bervariasi, ada yang dilipat sirih didepan dengan bagian kanan sebelah atas. Ada pula yang dipunjut kesamping, tergantung siapa pemakainya. Pada penutup kepala juga bervariasi, berupa songkok, ikat kepala atau juga tanjak. Tanjak atau ikat kepala dibuat dari jenis kain yang sama dengan baju dan celana. Pakaian Teluk Belanga hadir dengan warna polos, seperti hitam, abu-abu, atau warna lain yang netral.
Pakaian Kebaya Labuh Sementara pakaian Kebaya Labuh sering disebut juga kebaya panjang. Di mana belah labuh atau belah dada juga terdiri atau baju kain dan selendang. Panjang lengan Kebaya Labuh kira-kira dua jari dari pergelangan tangan. Sehingga gelang yang dipakai akan terlihat. Untuk lebar lengan kira-kira tiga jari dari permukaan lengan. Di mana kedalaman baju bervariasi, ada yang sampai ke betis atau sedikit keatas. Baju agak longgar dan tidak boleh diraut (dikecilkan) di bagian yang dapat menunjukkan ukuran dan bentuk pinggang serta gaya pinggul. Kebaya Labuh sering dipadukan dengan kain batik seperti kain cual.
Pakaian adat Riau biasanya memiliki tiga, yakni merah, kuning, hajau. Warna-warna tersebut memilik arti, warna merah berati keberanian, warna hijau artinya kesetiaan, dan warna kuning yang artinya kejayaan.
Jumat, 26 Maret 2021
Lancang Kuning
Lancang Kuning berlayar malam. Haluan menuju ke lautan dalam. Kalau nahkoda kuranglah paham. Alamat kapal akan tenggelam. Lancang kuning menentang badai. Tali kemudi berpilit tiga.
Pantun tersebut sangat populer di Riau, khususnya masyarakat Melayu. Filosofi dari baitnya mengisahkan bagaimana pemimpin (nakhoda) mengarungi lautan agar kapal (lancang) yang digambarkan sebagai pemerintahan tak karam.
Hingga kini tak diketahui pencipta pantun itu. Namun, Lancang Kuning tetap abadi karena disematkan sebagai sebutan untuk Riau. Begitu mendengar kata Lancang Kuning orang tertuju ke daerah yang berada di timur Pulau Sumatra itu.
Tak diketahui pasti sejak kapan Riau disebut sebagai negeri atau bumi Lancang Kuning. Tak disebut pula siapa orang pertama yang memberi gelar ke daerah yang dulunya ada kerajaan Melayu penguasa Selat Malaka ini.
Mendiang budayawan Riau, Tenas Effendy, dalam sebuah tulisannya berjudul Lancang Kuning pernah menyinggung kenapa Riau diberi gelar dengan sebutan itu. Dia menyebut sebutan ini sebagai tanda kegemilangan Riau sebagai daerah.
Menurut Tenas, Lancang berarti kapal besar yang biasa digunakan raja-raja mengarungi lautan. Kapal ini juga tanda komando armada perang di lautan yang dikendalikan laksamana ataupun raja.
Sementara Kuning sendiri merupakan warna kebesaran dalam tradisi Melayu. Kuning selalu ditemukan dalam berbagai upacara, pakaian, riasan dan baju kebesaran petinggi adat, meski dipadu dengan warna lain.
Lancang atau kapal sangat akrab dengan masyarakat rumpun Melayu. Dengan ragam kerajaannya, misalnya Lingga di Kepulauan Riau atau Siak serta Indragiri di Riau, rumpun Melayu membentang dari laut China hingga Selat Malaka.
Lancang ini disebut sebagai pemersatu antar pulau-pulau dalam bentangan rumpun Melayu. Lancang juga mempermudah raja berpindah ke suatu daerah yang menjadi kekuasaannya.
Dengan demikian, Lancang Kuning menandakan Riau sebagai kerajaan Melayu sangat mengusai maritim.
Di sisi lain, Lancang Kuning juga menggambarkan kejelian pemimpin dalam memerintah daerah. Makanya dalam pantun itu ada kalimat "berlayar malam, kalau nahkoda kuranglah paham, alamat kapal akan tenggelam".
Berlayar pada malam hari tentu saja berbeda dengan siang. Nahkoda pada siang hari berpedoman pada matahari sehingga semua orang bisa melakukannya. Berbeda dengan malam karena nakhoda harus paham arah angin dan membaca bintang.
Tidak semua orang bisa membaca bintang. Makanya diperlukan nakhoda lihai untuk membawa kapal besar dalam sebuah lautan yang luas atau pemimpin bijaksana menjalankan pemerintah.
Dengan demikian, pemimpin yang paham tentang seluk beluk daerah menjadi syarat mutlak bagi Riau.
Berikutnya, sebuah kapal dalam berlayar pasti bertemu badai. Makanya ada kalimat "Lancang kuning menentang badai, tali kemudi berpilit tiga".
Kalimat tersebut saling berkaitan. Di mana ada masalah, di situ pula ada cara seorang pemimpin menyelesaikan. Apakah dengan sesuka hati atau melibatkan unsur lain (berpilit tiga).
Dalam berbagai literatur, pilit tiga dalam Melayu terdiri dari tiga unsur, yaitu umara (cerdik pandai atau bisa saja perdana menteri), tetua adat dan terakhir ulama atau orang paham agama.
Karena Melayu sarat dengan nilai-nilai Islam, posisi ulama menempati posisi paling atas. Ketiga unsur itu menjadi syarat bagi raja dalam mengambil keputusan ketika menghadapi permasalahan.
Pertimbangan ketiga unsur ini kemudian menjadi konstitusi. Menjadi aturan bagi raja dalam menjalankan pemerintahan agar tidak melenceng dan berakibat merugikan rakyat.
Makanya dalam pantun yang kemudian digubah menjadi lagu itu, ditambahkan bait "selamatlah kapal menuju pantai, pelautlah pulang dengan gembira".
Minuman Khas Melayu
Laksamana Mengamuk
Laksamana mengamuk adalah minuman khas dari daerah Riau. Minuman ini berbahan dasar buah mangga kuini yang dicampur dengan santan dan gula. Laksamana Mengamuk banyak dijumpai saat bulan Ramadan.
Nama "Laksamana mengamuk" berasal dari kisah seorang laksamana yang mengamuk, Karena istrinya dibawa kabur oleh pemilik kebun kuini. Karena kemarahannya, ia menghempaskan pedangnya ke segala arah dan membuat buah kuini terjatuh dari pohonnya. Warga yang melihat hal ini kemudian memungut buah-buahan yang jatuh tersebut dan membuat minuman.
Masakan Khas Melayu
1. Pajri Nanas, Kudapan Khas Melayu
pacri nanas memang punya cara masak berbeda untuk mempertahankan kesegaran nanas sekaligus menghilangkan rasa asam. "Nanas setelah dipotong-potong direbus dengan air gula. Sebentar saja hanya 5-10 menit. Baru setelah itu dimasak dengan bumbu kari halus,"
Buah nanas biasanya dikonsumsi secara langsung sebagai buah segar atau rujak. Kadang ada juga yang mengolahnya menjadi selai dan acar. Hal berbeda jika kamu berada di tanah Melayu. Pasalnya, ada olahan nanas yang dimasak menggunakan bumbu rempah, lalu dimakan bersama nasi. Adalah pacri nanas, masakan khas Melayu yang sangat mudah ditemukan di daerah-daerah dengan kultur Melayu, salah satunya adalah Pulau Penyengat di Kepulauan Riau.
pacri nanas memang punya cara masak berbeda untuk mempertahankan kesegaran nanas sekaligus menghilangkan rasa asam. "Nanas setelah dipotong-potong direbus dengan air gula. Sebentar saja hanya 5-10 menit. Baru setelah itu dimasak dengan bumbu kari halus,"
Untuk memakan pacri nanas ini, jangan ragu mencampurnya dengan nasi. Meskipun sekilas terasa aneh, tapi rasanya ternyata tak berubah. Malahan terasa lebih nikmat, karena rasa segar nanas yang melimpah.
2. Ikan Asam Pedas Melayu, Kuah Pedasnya Bikin Ketagihan
Ikan asam pedas, makanan khas Melayu yang satu ini wajib dicoba saat datang ke wilayah Kepulauan Riau. Melayu memang terkenal dengan asam pedasnya. Dan yang dimasak asam pedas biasanya ikan. Ikan yang bisa dimasak asam pedas bisa ikan laut ataupun ikan air tawar
Ikan asam pedas Melayu didominasi oleh citarasa dari lada hitam dan asam jawa. Selain itu, asam pedas Melayu juga menggunakan cabai kering dan air. Penambahan lada hitam akan membuat kuah lebih terasa pedasnya.
Jenis ikan yang lebih enak dimasak dengan metode ditumis adalah ikan lebam, ikan selar, ataupun ikan yang mempunyai daging tebal. Tetapi kalau ikan yang tidak mempunyai daging terlalu tebal, lebih enak dengan cara direbus saja. Seperti ikan dingkis, ataupun ikan lambai.
Kamis, 25 Maret 2021
Layangan atau wau
Layang-layang, layangan, atau wau (di sebagian wilayah Semenanjung Malaya) merupakan lembaran bahan tipis berkerangka yang diterbangkan ke udara dan terhubungkan dengan tali atau benang ke daratan atau pengendali. Layang-layang memanfaatkan kekuatan hembusan angin sebagai alat pengangkatnya. Dikenal luas di seluruh dunia sebagai alat permainan. Layang-layang diketahui juga memiliki fungsi ritual, alat bantu memancing atau menjerat, menjadi alat bantu penelitian ilmiah, serta media energi alternatif.
Catatan pertama yang menyebutkan permainan layang-layang adalah dokumen dari Cina sekitar 2500 Sebelum Masehi. Sedangkan penggambaran layang-layang tertua adalah dari lukisan gua periode mesolitik di pulau Muna, Sulawesi Tenggara, yang telah ada sejak 9500-9000 tahun SM. Lukisan tersebut menggambarkan layang-layang yang disebut kaghati, yang masih digunakan oleh orang-orang Muna modern. Layang-layang terbuat dari daun kolope (umbi hutan) untuk layar induk, kulit bambu sebagai bingkai, dan serat nanas hutan yang dililitkan sebagai tali, meskipun layang-layang modern menggunakan senar sebagai tali. Diduga terjadi perkembangan yang saling bebas antara tradisi di Cina dan di Nusantara karena di Nusantara banyak ditemukan bentuk-bentuk primitif layang-layang yang terbuat dari daun-daunan. Di kawasan Nusantara sendiri catatan pertama mengenai layang-layang adalah dari Sejarah Melayu (Sulalatus Salatin) (abad ke-17) yang menceritakan suatu festival layang-layang yang diikuti oleh seorang pembesar kerajaan.
Langganan:
Postingan (Atom)
-
Tanjak Jati Diri Melayu Tanjak berasal dari zaman Kesultanan Melayu Melaka. Sebelum zaman itupun sudah menjadi kewajiban rakyat jelata un...





